RASM UTSMANI DALAM AL-ITQON IMAM SUYUTHI
Penulisan rasm mushaf kebanyakan merujuk ke Syaikhoni Imam
Abu Amr Addani dan Imam Abu Dawud Annajah, diantara ulama lain yang juga
menjadi rujukan dalam penulisan rasm Adalah Imam Suyuthi dalam Al-Itqon, Imam Ghauts
Al-Arkati An-naaithi Al-Hindi dalam muqodimah Nasrul Marjan menyebutkan
referensi dalam menulis kitab rasamnya
Adalah Al-Muqni Imam Ad-dani, Al-Aqilah Imam Syatibi, Al-Wasilah Imam Sakhowi, Annasr
juga mushaf milik Imam Ibnul Jazari, dan Al-Itqon Imam Suyuthi
Salah satu pendapat Imam Suyuthi dalam Al-itqon
mengenai Rasm Adalah bahasan pada Qoidah Hadf Alif Pada Bentuk Mutsana
Imam Suyuthi dalam Al-Itqon pada Nau; As Sadis wasab;un un Pada Bab Fi
Marsumil Khot Wa Adabu Kitabatihi pada Qoidah Al-Ula Al-Hadf:
Tuhdaful Alifu
Min…Wa Min Kuli Mutsana Ismin Au Fi’lin In Lam Yatathorrof .. Membuang alif pada setiap kalimat yang menunjukan
makna mutsana baik isim atau fiil jika alifnya berada di Tengah, Contoh seperti
kalimat Rojulaani, Al-Maidah Ayat 23,
Yualimaani al-Baqarah 102,
Adollaanaa Fushilat 29, In
Hadaani, Toha 63, dan
kalimat-kalimat lain diadalam Al-quran, kecuali pada kalimat Yadaaka Al-Hajj
10, pada kalimat Yadaaka ditulis dengan isbat Alif.
PANDANGAN ULAMA RASM (Syaikhoni)
Dalam Al-Muqni Imam Ad-dani menyebutkan Alif sebagai
penanda tasniyah yang berada di Tengah dibuang dalam penulisannya baik itu
domir pada fi’il atau penanda isim atau huruf baik itu Mutsana atau Mulhaq
Mutsana sebagai penanda rafa’
Mulhaq Mutsana seperti kata Isnaani, , Pada isim
seperti Rojulaani, Contoh Domir musana
yang bersambung dengan fiil seperti Yuallimaani, Yaqtatilaani. semua
ditulis dengan membuang alif kecuali kalimat Tukaddibaan dalam surat Ar-Rahman sebanyak 31 kalimat, maka pada kalimat ini ada dua cara penulisan isbat
atau hadf. jika alifnya berada diujung kalimat maka diisbat penulisannya baik
fiil atau isim seperti An-Yahofaa, Wala Taqrobaa dan kalimat-kalimat lainnya.
Imam Abu Dawud dalam Mukhtasar menyebutkan bahwa,
penulisan Alif-Tasniyah dalam mushaf menjadi khilaf antara yang mengisbat
(menetapkan) dan yang menghadf (membuang). Imam Abu Dawud menyatakan khilafnya
semua kalimat tasniyah dalam mushaf, artinya setiap kata tasniyah (dengan Alif)
dalam mushaf ada dua cara penulisan, kecuali dua kalimat yang tidak ada khilaf
menurut Abu Dawud yaitu pada Al-Maidah 107 Aulayaani hadf (tidak ada pilihan
isbat bagi Abu Dawud) mugkin karena adanya Dua cara baca dalam
lafadz tersebut dan kalimat Yadaaka Al-Hajj 10 isbat(tidak ada pilihan hadf
menurut Abu Dawud) , Imam Abu Dawud meskipun memberikan dua cara penulisan, ia
memilih isbat alif tasniyah selain dua kalimat yang dikecualikan , dengan
mengatakan Akhtaru Bil Alifi Li Maknayain saya memilih isbat alif dengan dua
alasan pertama penulisan isbat alif sesuai dengan mushaf yang beredar(saat itu),
kedua sebegai penanda alamat bahwa kalimat itu Mutsana, wallahu a’lam.
Dengan lebih rinci Imam Abu Dawud memberikan
alasan-alasan terhadap pendapat beliau yang memberikan pandangan akan bolehnya
menulis dengan dua cara penulisan walaupun beliau memilih isbat untuk alif
tasniyah, sebagai contoh Abu Dawud menghasankan dua cara penulisan untuk
kalimat Yahsifaani Toha 121, dan dengan
alasan iqtisor untuk hadf pada kalimat At-Tsaqolaani Arrahman 31, dan memilih
isbat untuk kalimat Fatayaani Yusuf 36, Yadaaka Hajj 10, Dr Ahmad Syirsal sebagai pentahqiq Kitab
Attanzil dalam hasyiyahnya memberikan komentar kenapa kalimat Yadaaka tetap di
isbat, baginya itu tetap masuk kategori Alif (Muathorrofah)di ujung yang tidak
berpengaruh terhadap keberadaan huruf kaf dalam kalimat itu. Juga Yang termasuk
hadf iqtisor Adalah kalimat Jam’ani Ali Imran
155,
Demikian juga misalnya kita merujuk ke Hijaul Masohif
Hadf pada tasniyah marfuah seperti rojulaani dan kalimat yang serupa dengannya
termasuk fiil.
Aplikasi dalam Mushaf Cetak
Wilayah Masyriq seperti Mushaf Madinah, Mushaf Mesir
dll memilih pendapat Imam Abu Dawud dengan mengisbat semua Alif Tasniyah dalam
al-qur’an kecuali 4 kalimat Ya’tiyaaniha, An-nisa 16, Haadaani Lasaahirooni, Toha 63, Fadanika,
Al-Qosos 63, Hadf pada keempat kalimat
ini sebagaimana dikutip Imam Abdul Wahid Ibnu Aasyar Al-Andalusi, dalam Fathul
Manan Imam Abu Ishaq At-Tujibiy seperti perkataan Dr Syafaat Rabani dalam Rasm
Mushaf Matbaah Taj, dan Dowahirurrasm Al Mukhtalaf Fiha Baina Masoohif
Masyariqoh Wa Masoohif Maghoribah Al-Muasiroh. Qoul ini bisa saja dinisbatkan juga pada salah satu qoul Imam Abu Dawud yang
boleh menghadf alif Seperti qoul Dr. Sayyid Ahamad Fughol, mungkin juga karena
dalam kedua qoul Ibnu Najah lebih menitikberatkan pada Isbat. wallhu a’lam .
Mushaf Maghrib (terutama Maghrib Aqso seperti Maroko )
semua hadf alif memilih qoul kedua Imam Abu Dawud dan menyebut memilih Ad-dani
pada kalimat Tukaddiban yaitu isbat qoul kedua Imam Ad-dani. Walaupun pada
kalimat Auliyani (hadf)dan yadaaka (isbat) tidak ada qoul kedua pada Abu Dawud.
Mushaf Maghrib Adna seperti Libiya yang pada mushafnya
mencantumkan merujuk ke Imam Ad-dani menghadf semua alif pada kalimat Tasniyah
kecuali kalimat Tukadibaan(sebagaimana pengeculain dari Imam Ad-dani adanya dua
cara Penulisan).
Mushaf India/Pakistan kemungkinan menggunakan Qoul
Ad-dani yaitu hadf secara Mutlaq tanpa pengecualian dan yang lain hadf dengan
qoul Imam Syatibi atu juga Imam Abu Dawud wallahu alam,
Mushaf Standar Indonesia ) sudah bisa dipastikan
merujuk ke Imam Abu Amr Addani hadf pada
semua kalimat mutsana Termasuk Kalimat Tukadiban
hadf qoul salah satu Imam Addani, sebagaimana Imam Syatibi dan Imam Sakhowi dalam wasilah memilih
mencontohkan satu cara yaitu hadf yang merupakan bagian dari pilihan utama para
pentahqiq dalam Madzhab Ad-Dani, demikian juga keterangan dalam Nasrul Marjan),
kalimat Rojulaani dalam Al-Maidah Ayat 23 isbat alif dalam penulisannya (yang
baru saya temukan) kemungkinan mengambil qoul kedua Imam Abu Dawud. Atau qoul
ulama lain seperti Ibnul Jazari yang juga mengisbat Alif pada Kalimat ini.
Wallahu a’lam.
Imam Suyuthi dalam satu sisi sepakat dengan Imam Ad-dani
yaitu hadf alif pada semua Mutsana, hanya berbeda pengecualian Imam addani
mengecualikan tukadiban, Imam suythi mengecualikan Yadaaka,
Imam Suyuthi juga sepakat dengan qoul kedua Ibnu Najah
yaitu hadf semua alif mutsana. Kecuali kalimat Yadaaka.
Dan bisa dibaca pada lanjutan bab ini ada beberapa
pendapat Imam Suyuthi terkait dengan rasm yang berbeda dengan Syaikhoni.
Seperti pada bahasan Penulisan Alif yang bersambung dengan Huruf lam, Hadf Alif
Pada Jama Tashih Mudzakar Atau Muanas dll.
Silahkan Bisa dibandingkan Mushaf MSI, Mushaf Libiya
Riwayat Qolun, Mushaf Maghrib Rwayat Warasy dengan Mushaf Madinah Riwayat Hafs..
MUSHAF MSI: contoh
Al-Maidah Rojulaani 23
Isbat(Imam Abu Dawud, atau qoul Imam lain).
Al-Maidah 64 Kalimat Yadaahu, Hadf(Imam Addani)
Al-Kahfi 57 Kalimat Yadaahu, Isbat (Imam Abu Dawud)
An-naba 40 Kalimat Yadaahu, Isbat(Imam Abu Dawud)
Al-Hajj 10 Kalimat Yadaaka, Hadf (Isbat Qoul Imam
Suyuthi -Juga Abu Dawud)
Ar-rahman, Kalimat Tukaddibaan 31 Kalimat (Dua
Wajh-Qoul Kedua Imam Ad-dani Yaitu Hadf sebagaimana Imam Syatibi dan Imam Sakhowi dalam wasilah memilih
mencontohkan satu cara yaitu hadf yang merupakan bagian dari pilihan utama
dalam madzhab Ad-dani demikian juga keterangan dalam Nasrul Marjan).
Pada Mushaf Jumhiriyah Libiya Yang merujuk ke Abu Amr
Addani memilih mengisbat kalimat Tukaddibaan.
Dalam Mushaf Timur Tengah Tedapat kalimat yang
bunyinya penulisan rasm merujuk pada tatacara penulisan menurut Imam Abu Amr
Ad-dani dan Imam Abu Dawud Annajah, jika keduanya terjadi perbedaan pendapat
maka akan mengambil pendapat Imam Abu Dawud An-najah atau bahkan qoul Ulama
lainnya.
Demikian
juga dalam Mushaf MSI (mushaf Standar Indonesia) Tedapat kalimat yang bunyinya
penulisan rasm merujuk pada tatacara penulisan menurut Imam Abu Amr Ad-dani dan
Imam Abu Dawud Annajah, jika keduanya terjadi perbedaan pendapat maka akan
mengambil pendapat Imam Abu Amr Addani atau bahkan qoul Ulama lainnya. Wallahu
a’lam
Imam-Imam Lain dalam rasm cukup banyak seperti Imam Al-ja’bari, Syathibi, Ibnul Jazari, Ibnu Asytah, Imam Labib, Imam Ibnu Asyaar, Imam At-Tujibiy, Imam Assakhowi, Imam Maroghini, Imam Mukholilati, Imam Khoroz, Imam Balansi, Imam Mahdawi, Imam Ghouts Al-arkati, Imam Sonhaji, Imam Suyuthi dan Imam-Imam lain atau para pentahqiq lainnya juga lajnah-lajnah. wallahu a’lam


Tidak ada komentar:
Posting Komentar